Perbedaan Bank Digital Vs Bank Konvensional

Perbedaan Bank Digital Vs Bank Konvensional

Perbedaan Bank Digital Vs Bank Konvensional – Di dunia ini termasuk di Indonesia, ada banyak sekali jenis bank yang ada. Ada banyak jenis bank baru yang baru di hadirkan. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, pada intinya kehadiran bank digital membawa semangat agar lembaga keuangan bisa melayani masyarakat banyak dengan biaya dan cara semurah dan seefektif mungkin. Akan tetapi, kehadiran bank konvensional juga dibutuhkan karena perubahan cara pelayanan terhadap masyarakat tak bisa berubah drastis dalam waktu singkat.

1. Sistem bank digital beroperasi maksimal sekitar 5-10 tahun lagi

Pada masa mendatang, layanan konvensional perbankan akan banyak digantikan sistem digital. Akan tetapi, waktu yang dibutuhkan agar sistem bank digital beroperasi maksimal diperkirakan sekitar 5-10 tahun lagi.

Fakta itu membuat kehadiran bank konvensional seperti BRI masih dibutuhkan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Dalam perjalanannya, proses transformasi digital layanan perbankan juga turut berlangsung dan menunggu adanya aturan dari regulator untuk pengamanan operasional dan konsumen bank digital.

2. Bank digital perlu diatur

Menurut Sunarso, hal pertama yang perlu diatur adalah pengamanan operasional bank digital bagi bank maupun nasabah. Kedua, jangkauan bank digital akan menjadi lebih luas, bahkan mungkin borderless. Berangkat dari itu, masing-masing negara punya kebijakan tentang pajak.

“Kemudian kalau penduduk antarnegara itu bisa ber-banking secara online seperti ini bagaimana perpajakannya? Itu juga salah satu hal yang perlu diatur,” ujar Sunarso

Baca Juga : Daftar Bank Syariah Terbesar di Indonesia

3. Begini cerita konversi BRI menjadi bank digital

Saat ini BRI sebagai lembaga keuangan dengan jangkauan terluas di Indonesia telah memulai langkah pelayanan bank digital sekaligus bank konvensional secara hybrid untuk masyarakat. Salah satu contohnya, layanan secara daring bisa didapatkan masyarakat dan nasabah melalui aplikasi BRImo. Melalui platform tersebut, pengajuan kredit dan pembukaan rekening baru di BRI bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit.

“Konversi BRI menjadi bank digital secara mendadak memiliki risiko yang besar. Untuk itu, BRI memilih tetap menjalankan fungsinya sebagai bank konvensional, namun proses bisnisnya didigitalkan. Sedangkan untuk layanan bank digital, tidak di BRI-nya langsung, tetapi melalui BRI Agro. Perusahaan anak BRI ini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, dan cukup agile untuk jadikan digital attacker – digital bank,” tutur Sunarso. (WEB)

Daftar Bank Syariah Terbesar di Indonesia

Daftar Bank Syariah Terbesar di Indonesia

Daftar Bank Syariah Terbesar di Indonesia – Indonesia memiliki banyak sekali bank yang di jalankan dan membuka banyak cabang yang beredar. Salah satu bank Indonesia yang sangat ramai di datangi adalah bank Syariah

1. Bank Syariah Mandiri

PT Bank Syariah Mandiri yang dipimpin oleh Toni Eko Boy Subari ini berhasil menduduki posisi pertama dengan total aset mencapai Rp114,4 triliun.

Jumlah ini menjadi perolehan aset paling tinggi, sebab nilainya kurang lebih setara dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata aset bank syariah besar lainnya. Pada periode ini, aset anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) ini tumbuh 1,9% dibandingkan dengan akhir tahun lalu yang sebesar Rp112,2 triliun.

Belum lama ini, Mandiri Syariah juga diganjar penghargaan Market Leadership Award 2020 untuk kategori Developing Islamic Banking in Indonesia. Predikat tersebut diberikan oleh Awards Committee of Global Islamic Finance Award (GIFA).

Adapun penilaiannya didasarkan pada scoring penyelenggara atas inovasi, kuantitas, dan kualitas, cross border, peran terhadap perkembangan industri, sharia authenticity, serta komitmen terhadap ekonomi syariah.

2. BNI Syariah

Peringkat kedua masih ditempati oleh bank yang menjadi milik negara, yakni PT BNI Syariah. Meski tak sebesar BSM, total aset BNI Syariah tumbuh 16,2% dari Rp42,29 triliun per Desember 2019 menjadi Rp50,76 triliun per Juni 2019.

Diketahui, sejak awal pendiriannya sepuluh tahun yang lalu, aset awal BNI Syariah masih sebesar Rp6,3 triliun. Namun, jumlahnya terus naik, bahkan kenaikan aset pada periode ini menjadi pertumbuhan paling tinggi dibandingkan sembilan bank syariah besar di Indonesia.

Pada tahun ini, anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNII) ini juga berhasil naik kelas ke bank umum kelompok usaha (BUKU) 3 setelah modalnya bertambah sebesar Rp255 miliar dengan modal inti Rp5 triliun-Rp30 triliun.

3. Bank BRISyariah

PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS) menjadi satu-satunya bank syariah milik anak usaha bank BUMN yang sudah go public. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini berada di urutan ketiga sebagai bank syariah beraset jumbo di Indonesia.

Atas pertimbangan tersebut juga, bank yang dipimpin oleh Ngatari ini mendapat mandat dari pemerintah untuk menjadi perusahaan cangkang alias surviving entity dari merger bank syariah anak usaha bank pelat merah pada Februari 2021.

Adapun aset BRISyariah yang tercatat per Juni 2020 sebesar Rp49,6 triliun, tumbuh 13,1% ketimbang Rp43,1 triliun pada akhir tahun 2019.

Baca Juga :Cara Bank Indonesia Menjaga Sistem Keuangan 

4. Bank Muamalat Indonesia

Selanjutnya, peringkat keempat diisi oleh bank syariah pertama di Indonesia, yakni PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Pada paruh pertama tahun ini, perusahaan mencatat total aset sebesar Rp48,6 triliun, turun 3,9% dari catatan aset per Desember 2019 yang sebesar Rp50,5 triliun.

Meskipun demikian, bank ini masih menorehkan kinerja positif, terutama dalam bisnis wealth management hingga mendapat penghargaan internasional sebagai Best Islamic Wealth Management Bank se-Asia Tenggara.

Penghargaan tersebut diberikan belum lama ini oleh Alpha South Asia, sebuah majalah investasi yang berbasis di Hong Kong. Beberapa produk bancassurance unggulan yang dipasarkan oleh Bank Muamalat, yakni asuransi Salam Hijrah Investa, asuransi Hijrah Cendekia, dan asuransi Ahsan.

5. Bank CIMB Niaga Syariah

Bank CIMB Niaga Syariah merupakan unit usaha syariah dari PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Bank ini memiliki total aset Rp43,1 triliun per semester I 2020. Perolehan tersebut lebih tinggi 1,6% dibandingkan dengan akhir tahun lalu yang tercatat sebesar Rp42,4 triliun.

Saat ini, bank tersebut dikabarkan tengah melakukan persiapan spin off atau pemisahan dari bank induknya, sekaligus fokus menambah modal untuk naik ke BUKU 3.

Pemisahan atau spin off dilakukan sesuai dengan Undang-Undang nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Disebutkan, bank syariah mesti lepas dari bank induk, dilakukan paling lambat 15 tahun sejak peraturan diberlakukan, yakni 2023.

Cara Bank Indonesia Menjaga Sistem Keuangan

Cara Bank Indonesia Menjaga Sistem Keuangan

Cara Bank Indonesia Menjaga Sistem Keuangan – Bank Indonesia sangat berperan penting dalam menjaga sebuah kestabilitas keuangan yang ada di Indonesia. Ada beberapa langkah yang bisa di lakukan untuk menjaga sistem keuangan bank Indonesia

Ketidakpastian pasar keuangan global akibat COVID-19 makin tinggi, meskipun intensitas di Tiongkok mulai berkurang. Asesmen terkini Bank Indonesia menunjukkan penyebaran COVID-19 di Tiongkok mulai berkurang dan berdampak positif pada kenaikan kegiatan ekonomi di Tiongkok. Namun demikian, ketidakpastian pasar keuangan makin meningkat pasca ditemukannya kasus COVID-19 di luar Tiongkok. Investor global menarik penempatan dananya di pasar keuangan negara berkembang dan mengalihkan kepada aset keuangan dan komoditas yang dianggap aman seperti UST Bond dan emas. Kondisi ini kemudian menekan pasar keuangan dunia dan memberikan tekanan depresiasi cukup tajam pada banyak mata uang global, termasuk Indonesia.

Bank Indonesia memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan Otoritas lain dalam melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah dan memitigasi dampak risiko COVID-19 terhadap perekonomian domestik. Pemerintah telah dan akan terus meningkatkan ruang stimulus fiskal dan memberikan kemudahan berusaha di sektor riil termasuk kegiatan pariwisata dan ekspor-impor, sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas moneter, nilai tukar Rupiah, dan pasar keuangan, serta mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan menempuh kebijakan untuk melakukan stabilisasi pasar saham serta terus memperkuat ketahanan industri perbankan dan jasa keuangan lain.

Baca Juga :Waspada Kejahatan pada Perbankan

Pada RDG 19-20 Februari 2020, Bank Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan untuk memitigasi risiko COVID-19. Suku bunga kebijakan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) diturunkan sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Strategi operasi moneter juga terus diperkuat guna menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif. Selain itu, Bank Indonesia juga menyesuaikan ketentuan terkait perhitungan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dengan memperluas cakupan pendanaan dan pembiayaan pada kantor cabang bank di luar negeri yang diperuntukkan bagi ekonomi Indonesia. Kebijakan sistem pembayaran juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi antara lain melalui perluasan akseptasi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) serta elektronifikasi bansos dan transaksi keuangan Pemda.

Waspada Kejahatan pada Perbankan

1

Waspada Kejahatan pada Perbankan – Di Indonesia ini sudah banyak sekali kasus korupsi yang sudah merajarela. Banyak koruptor yang di penjara namun ada juga yang masih di biarkan berkeliaran di luar sana. Berikut adalah beberapa kejahatan dalam perbankan yang harus kamu ketahui

Modus Kejahatan Bank

Diantaranya menggunakan dokumen atau jaminan palsu. Supaya cukup terlihat formal dan ketat aturan, para tersangka pun akan mengupayakan penipuan berjalan lancar dengan melengkapi data atau jaminan palsu dihadapan calon nasabah.

Oleh sebab itu jadilah nasabah yang teliti, dan harus banyak pengetahuan dengan yang berbau administrasi perbankan yang legal atau resmi.

Pembiayaan Fiktif

Dalam pasal 49 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 berbunyi bahwa :
Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk meneria imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang atau barang berharga, untuk keuntungan pribadi atau untuk keuntungan keluarganya, dalam rangak mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagian orang lain dalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas kredit dari bank, atau dalam rangka pembelian atu pendiskontoan oleh bank atau surat-surat wesel, surat promes, dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya, ataupun dalam rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dan yang melebihi batas kreditnya dan, diancam dengan penarikan dana yang melebihi batas kreditnya di bank, diancam dengan pidanapenjara sekurang-kurangnya 3 tahun dan paling lama 8 tahun serta denda sekurang-kurangya Rp. 5.000.0000.000, 00 (lima miliar rupiah ) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Berdasarkan uraian dan, penjelasan pasal diatas pasal 49 ayat 1 butir a bahwa pegawai bank adalah semua pejabat dan karyawan bank. Sedangkan dalam pasal 49 ayat 2 butir b ,pegawai bank adalah pejabat bank yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan usaha yang bersangkutan.

Contoh kasusnya terdakwa Didit Wijayanto pegawai PT bank BRI terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana perbankan sebagaimana dimaksud pasal 49 ayat 2 , dan pasal 55 ayat (1) KUHP, terdakwa secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana yaitu, tidak melaksanakan langka-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam UU dan ketentuan peranturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank.

Pertangung jawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Perbankan (Studi Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor ; 483/Pid.Sus./2013/PN.TK).

Baca Juga :Inilah 8 Bank Pemilik Aset Terbesar Indonesia

Masih banyak lagi para terdakwa yang melakukan penipuan pada nasabahnya sendiri. Tidak lain tujuan dari hukuman bagi terdakwa yang berat sagar kejahatan tidak terulang dua kali.

Penghimpunan Dana Tanpa Izin

Biasanya kejadian ini dilakukan oleh oknum tertentu untuk dengan mencari anggota di masyarakat. Modus dengan marketing, brosur dan beberapa keuntungan bunga bagi yang menitipkan dana di marketing tersebut.

Setelah mendapat partisipasi dari beberapa orang, maka marketing ini akan mencari anggota lebih banyak lagi. Setelah beberapa tahun kegiatan invetasi berjalan lancar, dan marketing tersebut sudah meraup uang ratusan jutaan. Kemudian beberapa kendala muncul, masyarakat mulai kuwatir dengan investasi yang ditanam, sudah mulai tersendat.

Diusut oleh beberapa orang dan melaporkannya ke pihak kepolisian ternyata marketing tersebut tidak ada, hanya manipulasi semata. Supaya kejadian ini tidak terjadi disarankan untuk memeriksa adanya surat izin perdagangan (SIUP), tanda daftar perusahaan (TDP) dan izin lainnya.

Inilah 8 Bank Pemilik Aset Terbesar Indonesia

bank

Inilah 8 Bank Pemilik Aset Terbesar Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai dengan Maret, keseluruhan aset perbankan mencapai Rp8.793,2 triliun dari total 110 bank di seluruh Indonesia.

Dari jumlah tersebut, terdapat 10 bank beraset jumbo yang menguasai 68,4% dari total aset seluruh perbankan di Tanah Air yang dicatat OJK. Total aset kesepuluh bank tersebut mencapai Rp6.017,59 triliun per kuartal I.

Pada posisi ini, empat bank pelat merah atau himpunan bank milik negara (Himbara) menempati urutan lima besar dalam deretan 10 bank beraset raksasa. Apabila ditotal, jumlah aset keempat bank, meliputi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN, telah menguasai lebih dari separuh total aset 10 bank, yakni 58,6% sebesar Rp3.529.09 triliun.

bni

Berikut daftar peringkat 8 bank dengan aset terbesar berdasarkan riset :

1. Bank BRI
Pada periode ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) alias BRI berhasil membukukan aset sebesar Rp1.287,09 triliun. Angka tersebut merupakan perolehan tertinggi dibandingkan dengan sembilan bank lain, yakni menguasai 21,3% dari total Rp6.017,59 triliun.

BRI masih menjadi juara bertahan dalam menempati posisi pertama bank dengan aset terbesar. Sebelumnya, bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) ini juga menjadi bank teratas dengan total aset senilai Rp1.416.76 trilun per 2019.

Selain itu, majalah Forbes pada tahun lalu juga menempatkan BRI sebagai perusahaan publik terbesar di Indonesia. Melalui Global 2000 The World’s Largest Companies yang dirilis, emiten bersandi BBRI ini menempati peringkat ke-363 dari 2.000 perusahaan publik terbaik di dunia. Pencapaian tersebut didapatkan oleh bank ini sejak tahun 2015 atau lima tahun berturut-turut.

2. Bank Mandiri
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berlogo pita kuning ini mencetak total aset sebesar Rp1.130,7 triliun pada triwulan I-2020 atau naik tipis 0,18% dari akhir 2019. Pembukuan aset tersebut mencakup konsolidasi bank konvensional dan syariah.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengaku, saat pandemi seperti sekarang, perseroan terus berupaya menjaga kualitas aset dan bisnis, salah satunya dengan menjaga kecukupan likuiditas.

“Untuk menghadapi efek pandemi terhadap bisnis, Bank Mandiri berusaha menjaga kecukupan likuiditas, termasuk menerbitkan obligasi rupiah sebesar Rp1 triliun dan emisi global bonds US$500 juta, serta meningkatkan pengumpulan dana murah,” ujarnya dalam keterangan resmi beberapa waktu yang lalu.

3. Bank BCA
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bersandi BBCA ini masih mempertahankan posisi sebagai bank swasta peringkat tiga besar di antara bank lain di Indonesia. Total aset yang dimiliki BCA per Maret 2020 tercatat Rp953,7 triliun, naik 5,7% dibandingkan akhir tahun lalu Rp899,03 triliun.

Pada tahun ini, bank milik konglomerat keluarga Hartono ini kembali masuk dalam Top 100 Most Valuable Global Brand menurut BrandZ. Pencapaian tersebut didasarkan oleh nilai merek BCA yang tumbuh 11% dari US$13,43 miliar pada tahun 2019, menjadi US$14,91 miliar atau setara Rp208 triliun pada 2020.

Kali ini, posisi BCA naik sembilan tingkat menjadi peringkat ke-90 dan masuk ke dalam Top 10 BrandZ Regional Bank, bersanding dengan sembilan bank lain dari China, Amerika Serikat, India, dan Kanada.

4. Bank BNI
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI yang juga pelat merah ini mampu mencatatkan total aset Rp803,2 triliun pada triwulan I-2020, naik 2,8% dibandingkan dengan akhir tahun senilai Rp780,2 triliun.

Posisi BNI sebagai peringkat keempat kali ini juga masih bertahan atau sama dengan tahun 2019. Belum lama ini, perseroan ini juga meraih penghargaan sebagai bank internasional terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, penghargaan itu diberikan oleh majalah investasi Alpha Southeast Asia karena dinilai berperan menjembatani perdagangan Indonesia dengan dunia. “Kami mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menjadi pebisnis global,” kata dia.

Dalam penghargaan tahunan institusi keuangan terbaik ke-14 kawasan Asia Tenggara, majalah investasi yang bermarkas di Hong Kong itu menganugerahkan BNI dengan gelar Best Trade Finance dan Best International Banking Division.

5. Bank BTN
Kendati masih berada dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) alias BTN mampu mencatatkan diri di peringkat kelima sebagai bank dengan aset jumbo. Bank dengan spesialis kredit kepemilikan rumah (KPR) ini memiliki total aset sebesar Rp308,1 triliun pada triwulan I-2020.

Pada tahun ini, BTN direncakan naik ke BUKU IV secara organik. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury. Menurutnya, perseroan memiliki kemampuan tersebut seiring dengan perolehan laba yang membaik.

“Kami memiliki kemampuan untuk tembus ke BUKU IV. Aset kami tergolong besar. Jika laba stabil kurang lebih Rp3 triliun, maka dalam tiga atau empat tahun ke depan, kami sudah masuk ke sana,” ungkapnya di Jakarta pada Maret lalu.

6. Bank CIMB Niaga
PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) asal Malaysia ini menempati peringkat bertahan di urutan keenam dengan total aset Rp271,8 triliun.

Pada tahun ini, CIMB Niaga terpilih sebagai salah satu perusahaan publik di Indonesia yang masuk kategori utama dalam penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS).

ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) mengumumkan, CIMB Niaga menjadi bank yang menduduki Top 3 Indonesia Public Listed Companies dengan perolehan nilai tertinggi di Indonesia. Diketahui, kategori ASEAN Asset Class adalah perusahaan dengan nilai ACGS minimum 97,5.

Baca Juga : Rencana Stop Operasi Bank BRI di Aceh

Direktur Compliance, Corporate Affairs and Legal CIMB Niaga Fransiska Oei mengatakan, penghargaan ini merupakan apresiasi atas konsistensi CIMB Niaga dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sesuai standar ASEAN.

“Kami menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang menempatkan CIMB Niaga setara dengan perusahaan-perusahaan di ASEAN. Bagi kami, penerapan GCG bukan sekadar untuk memenuhi peraturan (compliance),” ungkapnya di Jakarta.

7. Bank OCBC NISP
PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) yang didirikan di Bandung pada 1941 ini berhasil membukukan total aset Rp191,5 triliun pada triwulan I.

Pada periode ini, OCBC NISP berhasil menggeser Bank Panin dan naik satu peringkat menjadi urutan ketujuh. Sebelumnya, pada tahun 2019 OCBC NISP berada di peringkat delapan dengan total aset Rp180,8 triliun.

Peningkatan aset tersebut paling dominan didukung oleh penyaluran kredit sebesar Rp119,7 triliun dan penjualan surat berharga sebesar Rp24,2 triliun.

Adapun pemegang saham OCBC NISP per 31 Maret 2020, komposisi terbesar dimiliki oleh OCBC Overseas Investment Pte.Ltd sebesar 85,08%, sedangkan 14,92% sisanya dipegang oleh lain-lain.

8. Bank Panin
PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau Panin Bank yang dipimpin oleh Herwidayatmo ini mencetak total aset sebesar Rp185,1 triliun pada kuartal I-2020, menurun 2,6% dari total aset per 2019 sebesar Rp190,2 triliun.

Bank yang merupakan hasil merger dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia ini merosot satu peringkat menjadi urutan kedepalan kategori 10 aset bank terbesar di Indonesia, tersisih oleh OCBC NISP.

Nah itu dia daftar bank Indonesia yang memiliki aset terbesar di Indonesia, semoga artikel ini membantu

Rencana Stop Operasi Bank BRI di Aceh

Rencana Stop Operasi Bank BRI di Aceh

Rencana Stop Operasi Bank BRI di Aceh – Bank BRI merupakan salah satu bank Indonesia yang sudah berdiri cukup lama dan memiliki nasabah yang banyak dan tersebar di dunia.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akan menutup seluruh operasional perbankannya di Aceh. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menindaklanjuti penerapan http://162.214.117.184/ Qanun Lembaga Keuangan Syariah nomor 11 tahun 2018.

“Alhamdulillah Bank BRI telah mengalihkan seluruh portofolio dan layanan perbankan kepada Bank BRIsyariah,” kata Pemimpin Wilayah Bank BRI Provinsi Aceh Wawan Ruswanto di Banda Aceh, Selasa (13/4/2021).

1. Sedang menunggu Izin Pelaksanaan Penutupan dari OJK

Wawan lebih lanjut menjelaskan bahwa BRI telah menerima Izin Prinsip Penutupan 11 Kantor Cabang dan Kantor Wilayah, tetapi masih menunggu Izin Pelaksanaan Penutupan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jakarta.

“Setelah mendapatkan Izin Pelaksanaan Penutupan, BRI diberikan waktu 30 hari kerja untuk melaksanakan penutupan operasional kantor,” katanya, mengutip Antara News.

Ia juga mengatakan proses pengalihan telah berlangsung sejak Juli 2019 dan berakhir pada Desember 2020.

2. Pengalihan portofolio

Wawan mengatakan hampir seluruh portofolio pinjaman dan simpanan telah dialihkan, di mana sekitar 92 persen portfolio pinjaman dan 85 persen portofolio simpanan telah dibukukan di Bank BRIsyariah.

Selain itu masih terdapat sejumlah portofolio pinjaman yang tidak dialihkan, antara lain Non Performing Loan dan Hapus Buku dengan jumlahnya sekitar 8 persen dari total pinjaman.

Ia mengatakan ada sebagian kecil debitur yang meminta untuk dibukukan di Wilayah Medan dan pinjaman yang masih tersisa selanjutnya akan dikelola Kantor Fungsional BRI sampai dengan selesai atau dialihkan kepada Perusahaan Pengelola Aset.

Sementara untuk Simpanan, terdapat sekitar 15 persen dari total Simpanan yang belum dapat dialihkan, antara lain Simpanan Rekening Khusus bagi para penerima Bantuan Pemerintah.

3. Perubahan dalam penyaluran bantuan

Wawan juga menyebut bahwa sesuai dengan arahan dari Kemenko PMK, selanjutnya seluruh Bantuan Pemerintah di Provinsi Aceh tidak akan disalurkan oleh Bank BRI. Bantuan tersebut akan disalurkan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan PT. POS.

Dalam pemaparannya, Wawan juga menyebut bahwa seluruh Kantor dan E-channel Bank BRI telah dialihkan kepada BSI, yaitu 11 Kantor Cabang, 15 Kantor Cabang Pembantu dan 94 BRI Unit. Sementara untuk e-channel, terdapat 444 ATM yang telah digunakan oleh BSI.

Ada pun jumlah SDM yang sudah diserap untuk menjalankan Kantor BSI tersebut di atas adalah sekitar 69 persen. Itu termasuk yang ditempatkan di Regional Office dan Branch. Sementara 31 persen SDM lainnya tetap bekerja di BRI di luar Aceh, di Kantor Fungsional Aceh, dan sebagian kecil mengajukan pengunduran diri secara sukarela.

Sehubungan dengan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Bank BRI, wawan mengatakan pihaknya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan Bank BRI, terutama kepada Pemerintah Provinsi Aceh, Gubernur Aceh, Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga dan Instansi Vertikal, seluruh Masyarakat Aceh.

Daftar Kisaran Gaji Karyawan Bank Besar Indonesia

Daftar Kisaran Gaji Karyawan Bank Besar Indonesia

Daftar Kisaran Gaji Karyawan Bank Besar Indonesia – Setelah melewati beberapa tahap proses dalam penyaringan,akhirnya kami dapat menyempurnakan artikel yang sudah kami kumpulkan dengan data-data dari sumber yang terpercaya mengenai daftar kisaran gaji karyawan bank besar di Indonesia.

Profesi sebagai pegawai bank menjadi salah satu yang paling diminati oleh masyarakat Indonesia. Profesi yang ada di industri perbankan pun bervariasi, mulai dari bagian administrasi sampai level yang paling atas seperti manager atau supervisor dan lainnya.

Buat kamu yang baru lulus kuliah, bekerja di bank bisa menjadi pilihan yang baik. Namun, ada pula yang ragu-ragu untuk bekerja di industri tersebut karena khawatir gajinya terlalu kecil.

Dikutip dari Lifepal.co.id, IDN Times mengulas gaji bank besar yang ada di Indonesia. Siapa tahu, kamu tertarik melamar di salah satu bank tersebut.

1. Gaji pegawai Bank Mandiri

Bank Mandiri merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia. Bank ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perseroan berdiri pada 2 Oktober 1998.

Berikut daftar gaji pegawai atau karyawan di Bank Mandiri.

– Teller: Rp2,8 juta
– First Senior Manager: Rp10,9 juta
– Engineer Team Coordinator: Rp4 juta
– Compliance Senior Manager: Rp19,5 juta
– Customer Service Officer: Rp6,3 juta
– Vice President Human Capital Group: Rp37,5 juta
– Officer Development Program: Rp5,1 juta
– Relationship Manager: Rp12,3 juta
– Accounting Staff: Rp6 juta

– Marketing Staff: Rp2,5 juta
– Senior Vice President: Rp100,3 juta
– Administrative: Rp6 juta
– Credit Analyst: Rp9,3 juta
– Team Leader: Rp17 juta
– Credit Analyst Manager: Rp8 juta
– Legal Staff: Rp4 juta
– Staff: Rp4 juta
– Assisten Relationship Manager: Rp2,5 juta
– Senior Software Developer: Rp8 juta
– Branch Manager: Rp16,9 juta
– Clerk: Rp3,5 juta
– Managing Director: Rp112,5 juta
– Teller Coordinator: Rp4 juta
– Sales Representative: Rp2,5 juta

2. Gaji pegawai BCA

– Personal Financial Consultant: Rp5,75 juta
– Personal Banker: Rp5,75 juta
– Bank Operations Officer: Rp3,1 juta
– Trade Finance Officer: Rp4 juta
– Director: Rp50 juta
– Associate Director: Rp35 juta
– Senior Analyst: Rp16,5 juta
– Analyst: Rp9 juta
– Manager: Rp26 juta
– Assistant Manager: Rp14 juta
– Senior Officer: Rp9 juta
– Officer: Rp6,25 juta
– Assistant Officer: Rp4 juta
– Bank Teller: Rp2,75 juta
– Customer Service Officer: Rp4,5 juta
– Bank Auditor: Rp6,5 juta
– Collection/Debt Recovery Officer: Rp3,5 juta
– Compliance Officer: Rp6 juta

3. Gaji pegawai BRI

– Personal Financial Consultant: Rp5,75 juta
– Personal Banker: Rp5,75 juta
– Bank Operations Officer: Rp3,1 juta
– Trade Finance Officer: Rp4 juta
– Director: Rp50 juta
– Associate Director: Rp35 juta
– Senior Analyst: Rp16,5 juta
– Analyst: Rp9 juta
– Manager: Rp26 juta
– Assistant Manager: Rp14 juta
– Senior Officer: Rp9 juta
– Officer: Rp6,25 juta
– Assistant Officer: Rp4 juta
– Bank Teller: Rp2,75 juta
– Customer Service Officer: Rp4,5 juta
– Bank Auditor: Rp6,5 juta
– Collection/Debt Recovery Officer: Rp3,5 juta
– Compliance Officer: Rp6 juta

4. Gaji pegawai BTN

– Analyst: Rp4 juta
– Credit Analyst: Rp4 juta
– Unit Head: Rp8 juta
– IT Support: Rp4 juta
– Secretary: Rp4 juta
– Senior Assistant Manager: Rp10 juta
– Customer Service Staff: Rp4 juta
– Staf Administrasi dan Teknisi: Rp4 juta
– Senior Staff: Rp 4 juta
– Complance Assistant Manager: Rp10 juta
– Senior Software Developer: Rp8 juta
– Branch Manager: Rp16,9 juta
– Clerk: Rp3,5 juta
– Managing Director: Rp112,5 juta
– Teller Coordinator: Rp4 juta
– Sales Representative: Rp2,5 juta

Baca Juga:Laba CIMB Niaga Menurun hingga Hampir 2 Triliun

5. Gaji pegawai BNI

– Accounting Staff: Rp6 juta
– Administratif: Rp6 juta
– Assistant Manager: Rp5,8 juta
– Assistant Relationship Manager: Rp4 juta
– Assistant Vice President: Rp23,9 juta
– Assistant Relationship Manager: Rp2,5 juta
– Branch Manager: Rp19,5 juta
– Managing Director: Rp112,5 juta
– Call Center Officer: Rp4 juta
– Clerk: Rp3,5 juta
– Compliance Senior Manager: Rp19,5 juta
– Credit Analyst: Rp7,1 juta
– Credit Analyst Manager: Rp8 juta
– Customer Service Officer: Rp6,3 juta
– Engineer Team Coordinator: Rp4 juta
– First Senior Manager: Rp10 juta
– Frontliner: Rp3,7 juta
– Legal Staff: Rp4 juta
– Manager: Rp8,5 juta
– Managing Director: Rp112,5 juta
– Marketing Staff: Rp2,5 juta
– Officer Development Program: Rp5,1 juta
– Relationship Manager: Rp8,1 juta
– Sales Officer: Rp14 juta
– Sales Representative: Rp2,5 juta
– Senior Software Developer: Rp8 juta
– Senior Vice President: Rp100,3 juta
– Staff: Rp4 juta
– Team Leader: Rp12 juta
– Teller: Rp2,8 juta
– Teller Coordinator: Rp4 juta
– Trainee: Rp4 juta
– Vice President: Rp32,5 juta
– Vice President Human Capital Group: Rp37,5 juta

Komitmen bank bjb Dukung Pengembangan Olah Raga

Komitmen bank bjb Dukung Pengembangan Olah Raga – Nasional Perbesar bank bjb fokus pada program berkelanjutan yakni pembibitan talenta muda. Bandung Bola penalti hasil sepakan Achmad Jufriyanto bersarang manis di sudut kiri jala gawang Persipura Jayapura yang dijaga oleh Dede Sulaiman.

Komitmen bank bjb Dukung Peningkatan Olah Raga

Tendangan yang memastikan gelar juara Indonesia Super League (ISL) 2014 pulang ke Tanah Pasundan. Setiap di senggang waktu yang ada, disempatkan bermain permainan bola online di Joker Bola merupakan salah satu Agen Sbobet Terpercaya di Indonesia karena melayani permainan judi online sejak tahun 2016 dengan menyediakan berbagai macam situs judi online khususnya judi bola dan berbagai macam game online lainnya.

Jufriyanto lantas berlari menangis. Diikuti pelukan punggawa Maung Bandung lainnya yang mengepal lambang di dada. Tangisan bahagia bukan hanya milik Jufriyanto, tapi juga seluruh rakyat Jawa Barat yang telah berpuasa gelar selama 19 tahun.

Ketika itu, di Stadion Jakabaring Palembang, entah berapa banyak ciuman bersarang di jersey biru Persib. Sebuah jersey yang kelak akan hadir sebagai bukti sejarah kedigdayaan sepak bola Pasundan di Nusantara.

Menolak lupa, karena pada bagian dada jersey tersebut tersirat nama bank bjb sebagai sponsor utama. Sebuah bukti dedikasi yang diberikan bank bjb untuk kemajuan Pangeran Biru dan pengembangan sepak bola di Jabar secara umum.

Perbesar Komitmen bank bjb bangun Sepak Bola Nasional

Dedikasi tersebut ditunjukan melalui dukungan dana yangmencapai Rp8 miliar kepada pihak PT Persib Bandung Bermartabat. Dana senilai Rp 5 miliar dialokasikan untuk pemasangan logo bank bjb. Sementara sisanya diperuntukan bagi realisasi program khusus seperti pertandingan persahabatan hingga temu bobotoh.

“bank bjb adalah pendukung setia Persib. Saya pribadi jugasangat menyukai Persib,” ujar Senior Vice President Corporate Secretary Division bank bjb, Hakim Putratama beberapa waktu lalu.

Dukungan yang diberikan sejalan dengan strategi bisnis bank bjb. Pasalnya, Persib merupakan klub sepak bola dengan basis pendukung terbesar di Indonesia. Bahkan Asian Football Confederation (AFC) mencatat bahwa Persib merupakan klub sepak bola paling populer di Benua Asia.

Jumlah bobotoh Persib yang begitu besar merupakan potensi strategis untuk meningkatkan dana pihak ketiga (DPK). Salah satu realisasi kongkrit dilakukan bank bjb dengan meluncurkan Kartu Persib yang memberikan fasilitas debit dan ATM.

Tidak hanya Persib, bank bjb juga turut serta mendukung persepakbolaan Banten dengan menjadi sponsor utama bagi klub kebanggaan Kota Seribu Industri, Persikota Tangerang pada tahun 2016 lalu.

Bentuk dukungan yang diberikan tidak hanya terkait bantuan dana kepada pihak klub profesional. Program berkelanjutan turut dilakukan simultan dengan menggelar turnamen sepak bola usia diniberupa bjb Futsal Championship dan bjb Soccer Festival.

Kedua turnamen tersebut merupakan salah satu bentuk tanda mata yang dipersembahkan bank bjb dalam melahirkan bintang masa depan serta mengembangkan potensi bakat pemuda tanah air terkait olahraga sepak bola.

“Diharapkan dapat melahirkan atlet di masa yang akan datang serta sebagai sarana dalam menyalurkan hobi,” ujar Pemimpin Grup Marketing Communication Corporate Secretary Division bank bjb, Susie Permatasari.

Ungkapan apresiasi turut diberikan oleh komentator sepak bola nasional yakni Valentino Jebret Simanjuntak. Valentino menilai bahwa bank bjb memberikan wadah bagi pecinta olahraga futsal diIndonesia.

“Apresiasi untuk bank bjb karena menyelenggarakan dan memberikan wadah kompetisi futsal usia dini.Futsal banyak peminatnya tetapi belum dikelola dengan baik secara liga. Diharapkan ini konsisten dandapat memberikan ruang,” ujar Valentino.

bjb Futsal Championship yang digelar rutin sejak tahun 2014 melibatkan peserta siswa yang menjadi perwakilan dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di kawasan Bandung Raya.

Pada gelaran tahun 2017 lalu, bjb Futsal Championship melibatkan sebanyak 32 SMP dan 32 SMA sebagai peserta. Sebuah catatan jumlah peserta yang sensasional jika dibandingkan dengan gelaran serupa lainnya.

Tidak berlebihan jika kemudian bjb Futsal Championship hadir sebagai turnamen futsal paling bergengsi seantero Bandung Raya. Berkat animo yang besar, maka skala bjb Futsal Championship direncanakanakan meningkat pada gelaran di tahun 2018.

“Rencana besar menanti karena pada tahun 2018 skala turnamen akan diperluas dengan mengikutsertakan peserta dari seluruh region di Jabar,” ujar Project Manager bjb Futsal Championship2017, Olivia Santoso Wijaya.

Sementara bjb Soccer Festival merupakan turnamen sepak bola usia dini yang diperuntukan bagi Sekolah Sepak Bola (SSB) dari seluruh wilayah di Jabar. Turnamen tersebut telah digelar rutin sejak tahun 2017 lalu.

Adapun untuk konsep turnamen dibagi ke dalam tiga kelompok usia yakni U-9, U-10 dan U-11. Pembinaan usia dini memang menjadi salah satu fokus bank bjb dalam upayanya membangun Indonesia memahami negeri.

Pada tahun 2018, bjb Soccer Festival diadakan di Stadion Siliwangi Bandung dan melibatkan sebanyak 73 peserta SSB untuk memperebutkan 12 gelar juara dengan total hadiah sebesar Rp57 juta.

“Diharapkan (kedua turnamen) dapat meningkatan brand awareness dan corporate image bank bjbsebagai perusahaan yang peduli terhadap bidang olahraga dan kegiatan positif para generasi muda,” ujar Susie.

Selain itu, kedua turnamen tersebut juga bertujuan untuk mengenalkan produk dan layanan jasa bank bjb serta mengakuisisi nasabah baru potensial terutama dari kalangan pelajar. Hal tersebut sejalan dengan program pemerintah dalam menggiatkan semangat menabung di kalangan pelajar.

Dari Sepak Bola Ke Voli Kepeduliaan bank bjb di bidang olahraga tidak hanya ditujukan pada dunia sepak bola. Pasalnya, pada tahun 2017 lalu bank bjb menginisiasi kelahiran kembali klub bola voli putri profesional bernamaBandung bank bjb Pakuan.

Dalam sejarahnya, Bandung bank bjb Pakuan yang sebelumnya bernama Bandung Artdeco Bank Jabar memiliki prestasi gemilang di kancah bola voli nasional. Didirikan pertama kali pada 2003 dan mulai mengikuti Proliga satu tahun berselang.

Dikeikutsertaannya yang pertama, Bandung Artdeco Bank Jabar berhasil keluar sebagai juara umum. Pada edisi kedua Proliga di tahun 2015, Bandung Artdeco Bank Jabar meraih predikat juara ketiga. Satu tahun berselang, gelar juara kembali pulang ke pangkuan Bumi Pasundan.

Namun setelah itu eksistensi Bandung Artdeco Bank Jabar di ajang Proliga terhenti. Alasan yang kemudian menyebabkan tradisi juara turut menghilang dari tanah Jabar selama kurang lebih satu dekade.

Melalui Bandung bank bjb Pakuan, bank bjb bertekad kembali membawa pulang kejayaan bola voli nasional ke Tanah Legenda Jabar. Tidak percuma, karena pada Proliga edisi tahun 2018, Bandung bank bjb Pakuan berhasil meraih juara kedua.

“Saya memberikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada bank bjb yang selalu hadir dalam pembangunan Jabar. Karena kami yakin dan percaya bahwa olahraga bukan satu kesatuan yang terpisah dari aspek pembangunan,” ujar Pembina Bandung bank bjb Pakuan, Netty Heryawan.

Kehadiran Bandung bank bjb Pakuan juga dapat menunjang pembangunan soft skill melalui program pembinaan atlet Jabar yang sejalan dengan perjalanan bisnis melalui beragam promosi.

Bank Indonesia Awasi Bank lagi

Bank Indonesia Awasi Bank lagi

Bank Indonesia Awasi Bank lagi – Berikut ini merupakan artikel mbahas tentang wacana dikembalikannya peran pengawasan perbankan dari OJK ( otoritas jasa keuangan ) ke BI ( bank indonesia ).

Wacana ini kembali yang mesorotan sejalan dengan mencuatnya wacana reformasi sistem keuangan dan revisi Undang-undang (UU) Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia di mana di dalamnya memuat Dewan Moneter.

BI memang sebelumnya pernah melakukan pengawasan perbankan. Namun, peran pengawasan itu kemudian dilimpahkan ke OJK tak lama setelah terbentuk.

Lantas, haruskah peran pengawasan bank itu kembali ke BI?

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai, dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini setidaknya ada dua yang menjadi sorotan.

Pertama, kinerja OJK yang belum optimal yang tercermin dari sejumlah masalah salah satunya PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kedua, berkaitan dengan partisipasi BI untuk turut menanggung beban bersama (burden sharing) dengan pemerintah yang dinilai masih tarik ulur.

“Dengan proses ini saya kira ada dua hal yang harus diputuskan berbeda,” katanya kepada detikcom, Jumat (4/9/2020).

Berkaitan dengan OJK, Tauhid menilai perlunya dilihat lagi perbaikan sistem, manajerial hingga kepemimpinannya. Jika performa tidak baik, maka perlu dilakukan evaluasi.

Namun, itu bukan berarti jika OJK bermasalah kewenangannya harus dikembalikan ke BI. Sebab, kondisi saat ini memiliki kompleksitas dan masalah yang berbeda.

“Tapi tidak otomatis bahwa katakanlah OJK-nya bermasalah harus dikembalikan kewenangannya ke BI. Saya kira ini satu kemunduran, karena mungkin dulu tidak sebesar ini karena kompleksitas isunya tidak sebesar sekarang. Marketnya juga tidak sebesar sekarang dan ini juga jadi problem begitu,” jelasnya.

Dia melanjutkan, jika BI kembali mengurusi perbankan maka peran perantara atau intermediasi tidak berjalan dengan baik.

“Seharusnya memang harus dipisahkan ketika bank sentral masuk ke wilayah yang lebih teknis pengawasan dan sebagainya menurut saya menjadi fungsi intermediasi tidak jalan, karena tidak ada kebebasan dan sebagainya. Dia sudah mengontrol suku bunga dan mengontrol lebih teknis perbankan di marketnya. Marketnya semakin tidak bisa leluasa,” jelasnya.

Sementara, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, isu yang muncul dalam sepekan terakhir ada dua yakni reformasi sektor keuangan dan revisi UU BI. Meski sekilas tampak sama, menurutnya, hal ini dua hal yang berbeda.

“Dari informasi yang saya dapatkan, pemerintah dan DPR mempersiapkan kedua hal tersebut secara terpisah,” katanya.

Selanjutnya, ia berharap, rencana pembentukan Dewan Moneter tidak muncul lagi ke depannya. Sebab, itu diyakini akan menggerus independensi bank sentral dan apabila itu terjadi maka akan berdampak negatif pada sektor keuangan. Terlebih, kata dia, di tengah dampak pandemi COVID-19 seperti sekarang.

Baca Juga: Buka-Bukaan Jaga Ekonomi dari Dampak Corona

Namun, ia menilai, amandemen UU BI, OJK dan LPS memang diperlukan setelah keluarnya UU PPKSK tahun 2018.

“Namun demikian, pemerintah dan DPR sangat perlu berhati-hati dalam melakukan amandemen, baik itu amandemen UU BI yang saat ini sudah masuk prolegnas strategis (yang artinya akan diutamakan), maupun amandemen UU OJK dan UU LPS,” ungkapnya.

“Hendaknya pemerintah tetap menempatkan amandemen ini untuk kepentingan jangka panjang, bukan kepentingan jangka pendek, hanya untuk mengantisipasi krisis akibat pandemi semata,” jelasnya.