Daftar Pimpinan Bank dengan Aset Terbanyak

Daftar Pimpinan Bank dengan Aset Terbanyak

Daftar Pimpinan Bank dengan Aset Terbanyak – Kali ini daftarbankindonesia memberikan artikel tentang daftar pimpinan bank dengan aset kekayan  terbanyak yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

1. Sunarso – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk

Pria kelahiran 7 November 1963 ini adalah alumnus Institut Pertanian Bogor pada 1988. Sunarso lantas meraih gelar Master of Business Administration dari Universitas Indonesia pada 2002. Sejak 2 September 2019, Sunarso dipilih melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menahkodai BRI. Sunarso tercatat mengawali karir sebagai analis kredit di Bank Dagang Negara. Dia lalu bertolak lebih dalam menjadi banker di Bank Mandiri pada 1999.

Sunarso juga memperluas wawasannya dengan mengikuti berbagai program pelatihan di Melbourne University, Northwestern University, University of Chicago, London Business School, dan University of New South Wales. Per September 2019, BRI pun mencatatkan aset Rp1.305,60 triliun.

2. Royke Tumilaar – PT. Bank Mandiri Tbk

Royke saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk. Perusahaan dengan kode saham BMRI ini adalah ekonom yang menyabet gelar Master of Business Finance dari University of Technology Sydney. Alumnus Universitas Trisakti tahun 1987 ini mengawali karir sebagai analis kredit di Bank Dagang Negara. Setelah krisis moneter pada tahun 1998, Royke bergabung dengan Bank Mandiri yang merupakan gabungan bank-bank yang dilebur pasca krisis seperti Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia. Saat ini, aset BMRI tercatat sebesar Rp1.275,70 triliun per September 2019 lalu.

2. Jahja Setiaatmadja – PT Bank Central Asia Tbk

Nakhoda dari perusahaan berkode saham BBCA ini pernah bekerja di PT. Kalbe Farma dan Indomobil. Alumnus Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia ini, lantas memulai karir pertama di Pricewaterhouse sebagai junior accountant pada 1979. Dari pekerjaannya tersebut, ia digaji Rp 60 ribu setiap bulannya.

Pria kelahiran 14 September 1955 ini lantas pindah ke BCA pada 1990, dengan risiko turun jabatan sebagai Wakil Divisi Keuangan BCA dari yang sebelumnya direktur keuangan di Indomobil. Jahja lantas dipromosikan menjadi Kepala Divisi Treasury pada 1996. Saat krisis 1998 dan BCA sedang terpuruk, Jahja dipercaya menjabat Direktur sampai 1999 saat BCA berada di bawah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Posisi sebagai direktur terus diembannya hingga ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Direktur BCA, lalu Presiden Direktur BCA sejak 2011. Sampai September 2019, BBCA mencatatkan total aset Rp893,5 triliun.

4. Achmad Baiquni – PT. Bank Negara Indonesia Tbk

Nahkoda yang satu ini tercatat menjadi pemimpin di perusahaan berkode saham BBNI sejak 2015. Alumnus Universitas Padjajaran lantas melanjutkan studi dan meraih gelar Master of Business Management dari Asian Institute of Management di Filipina. Sampai dengan September 2019, BNI mencatatkan aset perbankan sebesar Rp815,2 triliun.

Baca Juga: Rahasia Kelam Bank BUMN

5. Pahala N. Mansury – PT Bank Tabungan Negara Tbk

Pria kelahiran 8 April 1971 ini tercatat mulai memimpin BTN sejak 27 November 2019. Sebelumnya, Pahala pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PT. Pertamina (Persero). Pahala tercatat mengawali karir sebagai konsultan manajemen di Andersen Consulting. Hingga pada 1998, Pahala bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York. Dia lantas bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior selama satu tahun di 1999. Hingga pada 2003, Pahala memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri menjadi salah satu pijakan penting karier Pahala sebab dari sini kariernya terus meningkat. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS) ini lantas mencapai posisi direktur di Bank Mandiri pada 2010, sempat menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia sampai berpijak di BTN. Per September 2019, BTN mencatatkan aset Rp316,7 triliun.

Rahasia Kelam Bank BUMN

Rahasia Kelam Bank BUMN

Rahasia Kelam Bank BUMN – Berikut ini merupakan artikel tentang rahasia kelam bank BUMN ( Badan Usaha Milik Negara) yang sudah dirangkum dari sumber terpercaya.

Saat ini, hampir semua warga negara Republik Indonesia (RI) mengenal Rupiah (Rp). Rupiah adalah nama mata uang RI yang pembuatannya didasarkan atas nilai ekstrinsik (nominal yang tertera pada uang tersebut), yang mayoritasnya dalam bentuk uang kertas (fiat) dan juga koin. Rupiah telah memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di RI. Hampir setiap hari, bahkan hampir setiap jam selalu ada kegiatan yang menggunakan Rupiah.

Kekaguman saya akan Rupiah membuat saya penasaran dengan Rupiah. Namun rasa penasaran saya ini esensinya bukan asal-usul tentang kenapa mata uang kita disebut Rupiah, tapi lebih kepada badan yang mempunyai kewenangan dan kebijakan (otoritas) moneter, yaitu Bank. Beberapa hari lalu saya browsing mengenai Bank yang ada di Indonesia, dan hasilnya cukup membuat saya terkejut.

Bank-bank yang ada di Indonesia, khususnya yang menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ada empat, yaitu Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN) dan Bank Mandiri. Tidak ada Bank Indonesia (BI), Bank yang menjadi Bank Sentral (Bank yang memiliki hak untuk mencetak dan mengedarkan Rupiah ke masyarakat melalui Bank-bank BUMN dan Bank-bank swasta).

Lantas dimana posisi BI? BI milik siapa?

Mari sejenak kita flashback. Saat Indonesia merdeka, founding fathers kita, Bung Karno dan Bung Hatta (Presiden dan Wakil Presiden RI pertama) memutuskan untuk mendirikan Bank Sentral, yaitu BNI 1946 (didirikan pada tahun 1946) dengan menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). ORI terbit dengan satuan 1 sen hingga 100 Rupiah. Setiap 2 Rupiah dijamin dengan 1 gram emas (UU No.19 tahun 1946). Belanda dan bankir internasional, menolak RI, BNI 46 dan ORI. Kemerdekaan RI tidak diakui, dengan terjadinya agresi militer dan seterusnya.

Akhirnya dipaksa melalui perundingan, Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, RI akan diakui dengan beberapa syarat. Salah satu syaratnya, yaitu hutang pemerintah Hindia Belanda, harus mengambil oleh RI muda. Nilainya 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS), padahal saat proklamasi RI tidak punya hutang. Agar bisa mengambil alih hutang, BNI 46 harus dihentikan sebagai Bank Sentral dan mengganti dengan Bank Yahudi, De Javasche Bank, yang berganti nama menjadi Bank Indonesia (BI). ORI pun diganti nama menjadi Uang Bank Indonesia (UBI), sejak tahun 1952.

Dari tahun ke tahun hutang RI semakin membengkak. Pada tahun 1999, BI melepas dari Pemerintah RI, langsung di bawah IMF (International Monetary Fund), sebuah lembaga keuangan otonomi internasional Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944. Tujuan utamanya adalah untuk mengatur sistem pertukaran moneter internasional.Secara khusus, salah satu tugas utama IMF adalah untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar mata uang dunia.