Revisi RUU OJK Gagal Melakukan Fungsi Penawaran Bank

Revisi RUU OJK Gagal Melakukan Fungsi Penawaran Bank

Revisi RUU OJK Gagal Melakukan Fungsi Penawaran Bank  – Kali ini daftarbankindonesia akan menyajikan artikel tentang revisi RUU Bank Indonesa : OJK gagal melakukan fungsi penawaran bank.

Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR Hendrawan Supratikno mengatakan, keberadaan Pasal 34 ayat 1 dalam revisi Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia (BI) bukan berarti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gagal melakukan fungsi pengawasan.

1. Baleg membuka peluang merevisi pasal kontroversi RUU BI
endrawan mengatakan, Baleg yang kini tengah menyusun RUU BI itu membuka peluang membahas dan merevisi kembali pasal-pasal yang menuai kontroversi. Sebab RUU BI ini masih dalam tahap awal pembahasan untuk menyerap aspirasi masyarakat termasuk ahli.

“Kita lihat nanti, pembahasan masih panjang, ini baru pemanasan,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

RUU BI yang menjadi kontroversi di antaranya akan menghapuskan pasal 9 UU 23/1999. Isinya yaitu pihak lain dilarang melakukan segala bentuk campur tangan atas tugas BI. Artinya, kebebasan BI dalam menetapkan kebijakan bakal hilang.

Belum lagi soal penghapusan pasal 9 yang digantikan oleh pasal 9a, 9B, dan 9C. Isinya adalah kehadiran dewan moneter yang bisa ikut campur dalam kebijakan.

Terakhir, pada pasal 34 berubah menjadi tugas pengawasan bank yang selama ini dilaksanakan oleh OJK dialihkan ke BI.

2. OJK sebut pengalihan pengawasan sebagai domain politik
Sementara itu, Staf Ahli OJK Ryan Kiryanto mengatakan, pihaknya masih tetap solid dalam memastikan pengawasan terintegrasi terhadap sektor jasa keuangan tetap kuat. Menurut dia, penyusunan regulasi tersebut merupakan domain politik.

“Terkait dengan Perppu apakah BI, LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), kami memandang itu domain politik, jadi kita gak masuk ranah sana. Kita masuk ke zona pengawasan integrasi,” kata Ryan.

Baca Juga: BRI Kembali Menjadi Bank Paling Bernilai

3. OJK saat ini fokus pada pemulihan ekonomi nasional
Ryan mengklaim, saat ini OJK fokus pada tugas dan fungsi pokok pengawasan, dan turut mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN), salah satunya dengan cara merilis Peraturan OJK Nomor 11, Peraturan OJK Nomor 14, dan kebijakan lainnya.

Menurut dia, peraturan ini berdampak baik bagi masyarakat dan pelaku usaha yang saat ini berjuang untuk bertahan hidup di tengah pandemik COVID-19.

“Ternyata bisa dinikmati nyata oleh perbankan dan pelaku usaha sektor riil, karena mereka mendapat keringanan. Ini merupakan wujud nyata OJK baik dalam pengawasan terintegrasi maupun menjaga stabilitas sistem keuangan, dan mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat,” ujarnya.

BRI Kembali Menjadi Bank Paling Bernilai

BRI Kembali Menjadi Bank Paling Bernilai

BRI Kembali Menjadi Bank Paling Bernilai – Kali ini daftarbankindoneia akan menyajikan berita tentang kembalinya bank BRI menjadi bank dengan Merek paling bernilai.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali tercatat menjadi bank dengan merek paling bernilai di Indonesia pada riset yang diterbitkan oleh Brand Finance: Banking 500 2020. Dalam riset tersebut, valuasi merek Bank BRI ditaksir mencapai 3,5 miliar dollar atau senilai Rp52,4 triliun.

1. Posisi Bank BRI ada di peringkat teratas merek bank paling bernilai di Indonesia
Bank BRI Kembali Tercatat Jadi Merek Bank Paling Bernilai di IndonesiaIDN Times/Bank BRI

Bank BRI menduduki peringkat ke 81 dari 500 bank terbaik di dunia dan menjadi peringkat teratas merek bank paling bernilai di Indonesia. Valuasi merek BRI pun meningkat dibandingkan tahun 2019, di mana pada tahun lalu nilai merek BRI menurut versi Brand Finance tercatat sebesar 3,2 miliar dollar.

2. Valuasi Bank BRI berbanding terbalik dengan kondisi total valuasi merek 500 bank di dunia
Corporate Secretary Bank BRI, Amam Sukriyanto, menyatakan bahwa perseroan bangga dan bersyukur atas pencapaian tersebut. Peningkatan ini merupakan cerminan kinerja perseroan yang tetap tumbuh berkelanjutan di tengah kondisi yang penuh tantangan.

“Alhamdulillah nilai brand BRI masih dapat tumbuh, berbanding terbalik dengan kondisi total valuasi merek dari 500 bank di dunia, di mana secara total nilainya turun dari semula 1,36 triliun dollar di 2019 menjadi 1,33 triliun dollar pada tahun ini,” imbuh Amam.

Baca Juga: Perubahan Nama Bank Royal Menjadi Bank Digital BCA

3. Metodologi tahapan yang digunakan Brand Finance menyusun valuasi merek
Tahapan tersebut yakni dengan menggabungkan hasil penilaian Brand Strengh Index (BSI), Brand Royalty Rate, serta kinerja Bank BRI secara keseluruhan.

Brand Finance sendiri merupakan konsultan valuasi merek terkemuka di dunia yang telah menerapkan standar ISO 16088 dan ISO 20671 serta tergabung dalam Marketing Accountability Standards Board.