Bank Dunia: Investor Jangan Tagih Utang ke Negara Miskin

Bank Dunia: Investor Jangan Tagih Utang ke Negara Miskin

Bank Dunia: Investor Jangan Tagih Utang ke Negara Miskin – Berikut ini merupakan artikel tentang presiden bank dunia, david malpass yang meminta investor dan pemeri pinjaman memberikan keringanan utang kepada negara miskin.

Sebab, negara miskin merupakan pihak yang sangat merugi di ujung jurang resesi imbas pandemik COVID-19.

“Beberapa negara tidak dapat membayar kembali hutang yang mereka tanggung. Karena itu, kita juga harus mengurangi tingkat hutang. Ini bisa disebut keringanan atau pembatalan utang,” kata Malpass pada Minggu (4/10/2020) sebagaimana dikutip dari Handelsblatt.

1. Kejadian serupa pernah terjadi pada 1990

Malpass memaparkan, keringanan pembayaran utang pernah dilakukan saat krisis keuangan di Amerika Latin pada dekade 1990-an. “Penting bahwa jumlah utang dikurangi dengan restrukturisasi,” tambah Malpass.

Sebagai informasi, negara-negara kaya bulan lalu mendukung ide perpanjangan Debt Service Suspension Initiative (DSSI) G20 untuk membantu negara-negara berkembang dan miskin bertahan di masa pandemik. Kebijakan itu akan mengakomodir 43 dari 73 negara potensial yang diberi pengguhan utang hingga 5 miliar dolar AS (Rp74 triliun).

2. Para investor dan pemberi utang belum banyak terlibat
Bank Dunia memprediksi, pandemik menyebabkan 100 juta orang jatuh dalam kemiskinan ekstrem. Malpass menyerukan agar sektor swasta turut serta untuk menekan angka itu.

“Para investor ini tidak melakukan cukup banyak hal (untuk pengurangan kemiskinan) dan saya kecewa dengan mereka. Beberapa pemberi pinjaman besar juga tidak cukup terlibat. Oleh karena itu, dampak dari langkah-langkah bantuan kurang dari yang seharusnya,” tutur dia.

Baca Juga: Pembobol Rekening Bank ditangkap

3. Semua negara kesulitan membayar utang
Malpass memperingatkan bahwa pandemik dapat memicu krisis utang lain karena beberapa negara berkembang telah memasuki spiral pertumbuhan yang lebih lemah dan masalah keuangan.

“Defisit anggaran yang sangat besar dan pembayaran utang membebani negara-negara ini. Apalagi, bank-bank di sana kesulitan karena kredit macet,” tutup Malpass.

Pandemik COVID-19 masih terus berlangsung sejak diumumkan WHO pada Maret tahun ini. Dilansir dari World O Meter, tercatat lebih dari 35 juta orang di seluruh negara terpapar corona, satu juta di antaranya meninggal dunia.