Waspada Kejahatan pada Perbankan

Waspada Kejahatan pada Perbankan – Di Indonesia ini sudah banyak sekali kasus korupsi yang sudah merajarela. Banyak koruptor yang di penjara namun ada juga yang masih di biarkan berkeliaran di luar sana. Berikut adalah beberapa kejahatan dalam perbankan yang harus kamu ketahui

Modus Kejahatan Bank

Diantaranya menggunakan dokumen atau jaminan palsu. Supaya cukup terlihat formal dan ketat aturan, para tersangka pun akan mengupayakan penipuan berjalan lancar dengan melengkapi data atau jaminan palsu dihadapan calon nasabah.

Oleh sebab itu jadilah nasabah yang teliti, dan harus banyak pengetahuan dengan yang berbau administrasi perbankan yang legal atau resmi.

Pembiayaan Fiktif

Dalam pasal 49 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 berbunyi bahwa :
Anggota dewan komisaris, direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk meneria imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang atau barang berharga, untuk keuntungan pribadi atau untuk keuntungan keluarganya, dalam rangak mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagian orang lain dalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas kredit dari bank, atau dalam rangka pembelian atu pendiskontoan oleh bank atau surat-surat wesel, surat promes, dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya, ataupun dalam rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dan yang melebihi batas kreditnya dan, diancam dengan penarikan dana yang melebihi batas kreditnya di bank, diancam dengan pidanapenjara sekurang-kurangnya 3 tahun dan paling lama 8 tahun serta denda sekurang-kurangya Rp. 5.000.0000.000, 00 (lima miliar rupiah ) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).

Berdasarkan uraian dan, penjelasan pasal diatas pasal 49 ayat 1 butir a bahwa pegawai bank adalah semua pejabat dan karyawan bank. Sedangkan dalam pasal 49 ayat 2 butir b ,pegawai bank adalah pejabat bank yang mempunyai wewenang dan tanggungjawab tentang hal-hal yang berkaitan dengan usaha yang bersangkutan.

Contoh kasusnya terdakwa Didit Wijayanto pegawai PT bank BRI terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana perbankan sebagaimana dimaksud pasal 49 ayat 2 , dan pasal 55 ayat (1) KUHP, terdakwa secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana yaitu, tidak melaksanakan langka-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam UU dan ketentuan peranturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank.

Pertangung jawaban Pidana Pelaku Tindak Pidana Perbankan (Studi Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor ; 483/Pid.Sus./2013/PN.TK).

Baca Juga :Inilah 8 Bank Pemilik Aset Terbesar Indonesia

Masih banyak lagi para terdakwa yang melakukan penipuan pada nasabahnya sendiri. Tidak lain tujuan dari hukuman bagi terdakwa yang berat sagar kejahatan tidak terulang dua kali.

Penghimpunan Dana Tanpa Izin

Biasanya kejadian ini dilakukan oleh oknum tertentu untuk dengan mencari anggota di masyarakat. Modus dengan marketing, brosur dan beberapa keuntungan bunga bagi yang menitipkan dana di marketing tersebut.

Setelah mendapat partisipasi dari beberapa orang, maka marketing ini akan mencari anggota lebih banyak lagi. Setelah beberapa tahun kegiatan invetasi berjalan lancar, dan marketing tersebut sudah meraup uang ratusan jutaan. Kemudian beberapa kendala muncul, masyarakat mulai kuwatir dengan investasi yang ditanam, sudah mulai tersendat.

Diusut oleh beberapa orang dan melaporkannya ke pihak kepolisian ternyata marketing tersebut tidak ada, hanya manipulasi semata. Supaya kejadian ini tidak terjadi disarankan untuk memeriksa adanya surat izin perdagangan (SIUP), tanda daftar perusahaan (TDP) dan izin lainnya.